« Cintanya Sang Bunga | Main | Undangan nikah+walimah Rini & Asephin »

December 11, 2007

(cerpen) CINTA DI PERSIMPANGAN JALAN

Cuaca sedikit panas siang ini. Kuhapus keringat yang menetes dikening, sambil melirik arlojiku. Pukul 12.05 tanggal 15 April, cuaca panas sangat terasa di kota Berlin yang sekarang ini hampir menampung 3,4 juta penduduknya. Sekitar 15 menit di perjalanan akhirnya aku sampai juga di apartemen kecilku.  Masih kulihat bungkusan kardus yang tersusun rapi di ruang tamu. Beberapa hari ini aku memang telah merapikan barang-barangku, tinggal sedikit lagi yang belum kumasukkan dalam kotak. 1 minggu lagi aku berada di kota ini, aku akan segera pulang kembali ke Indonesia. Fiuhh...semuanya beres! Kumatikan laptopku, aku siap-siap berangkat lagi.  Hari ini ada pertemuan dengan para akhwat di mesjid Yavuz-Sultan-Selim.

Di teras mesjid, kulihat beberapa akhwat sudah menunggu.  Mereka berasal dari Indonesia juga, sama seperti diriku yang berada di perantauan ini, karena melanjutkan studi. 

Assalamu’alaykum....kaifa haluk ukh? Sapa della, salah satu temen akhwatku yang berasal dari Semarang. Alhamdulillah, ana bikhoir....af1 ya, dikit telat.
Ya..ngga papa, kami seneng anti bisa jadi pemateri acara ini
, sahut Noni. 

Acara mulai berlangsung, Bismillahiramaanirrahiim aku mulai menunaikan amanah yang diberikan padaku di acara ini.  “Muslimah di Persimpangan Jalan” materi yang aku sampaikan sesuai permintaan panitia acara.  1 jam berlangsung, acara sudah selesai sekitar 10 menit yang lalu, aku siap-siap pulang. 

Jazakillah khair ya ukh....ucap Della,
Waiyyaki...sahutku. 
Anti dah siap-siap balik ke Indonesia minggu depan?
InsyaAllah
sahutku lagi. 
Salam buat ikhwah disana ya ukh, always istiqomah aja deh!.....
insyaAllah, thanks ya Wassalamualaykum ucapku,
sekalian pamitan pulang pada semuanya.

............................. ..

Aku masih menikmati keberadaanku di kota ini, Berlin terasa sangat berarti ketika aku mulai menghitung hari untuk meninggalkannya. Tersimpan banyak kenangan selama hampir 2 tahun menapaki dan menyusuri lorong-lorong kota Berlin, Legoland (tempat bermain anak-anak, seperti Dufan) di Guenzburg tempat yang sangat kusenangi karena aku senang melihat anak-anak yang bermain disana.  Kesejukan itu semakin terasa malam ini, kubuka kembali HP, kubaca berulang-ulang isi sms yang kuterima sore tadi.  Jadikan pulang tanggal 22 April nanti? Langsung ke Banjarmasin kan...?? Rin, ada hal penting yang ingin ana sampaikan ke anti, ana pengen anti berada disini, please ya langsung pulang kesini...sms dari Rahma, sahabat lamaku, masih sering komunikasi denganku walau kami sudah terpisah jarak yang sangat jauh, dia masih sering cerita tentang perjalanan ikhwah di kota kami dulu. Kubalas smsnya tapi dia tidak mau mengatakan permasalahannya itu, dia akan mengatakannya bila aku sudah di Banjarmasin, padahal biasanya dia mau aja cerita...aku sedikit penasaran....ahh, sudahlah, aku kembali melanjutkan tilawahku, huhh....aku mulai ngantuk, kulihat pukul 03.00, ntah kenapa malam ini bayangan masa lalu senantiasa berkeliaran dihadapanku, yahh...mungkin karena aku sebentar lagi mau pulang ke tanah air, tersimpan banyak kenangan yang aku tinggalkan disana.

............................. ..........

23 April, 17.07 wita....Tak terasa saat itu tiba, sekarang aku sudah melangkahkan kakiku di Bandara Syamsudin Noor, setelah sekian lama perjalanan. Keluargaku gembira menyambut kepulanganku, keponakan kecilku, aku kangen banget dengan mereka.  Berbagai cerita terlontar dari bibir ini, menceritakan banyak kejadian dan peristiwa selama aku di Berlin.  Aku memang jarang pulang, tapi sekarang aku akan berkumpul lagi dengan Bapak dan keluargaku yang tercinta.
2 hari setelah kepulanganku, aku mulai silaturrahim pada temen-temen lamaku. kerinduan...semangat kebersamaan....masih kurasakan, bahkan aku mulai bergabung lagi dengan komunitas akhwat disini.  Rin,sekarang  ana mau kerumah anti  ya, kangen euy, sekarang dah diperjalanan nih...?? sms dari Rahma.  Tak berapa lama kulihat sosok akhwat berjilbab ungu masuk ke halaman rumah.  Rahma, sahabatku itu masih terlihat manis dengan senyumnya.  Rin, ana kangen banget dengan anti....ucap Rahma sambil memelukku dengan hangat, ana juga kangen dengan anti, balasku....ukhuwah yang sangat indah....lama bercerita, Rahma mulai terlihat serius, seperti mau mengatakan sesuatu.

Rin ingat ngga sama akh.....??
insyaAllah ana masih ingat dengan ketua kita itu kataku sambil bercanda, aku ingat nama ikhwan yang disenut Rahma tadi, dia itu adalah ikhwan yang sangat misterius, tenang, sangat berwibawa, tegas kadang menyebalkan juga, banyak akhwat yang menyimpan rasa dengannya. Selama jadi Sekretaris dia, dia ikhwan yang sangat beda dengan yang lain....ikhwan sejati deh...
Emang ada apa ukh..?? tanyaku dengan selidik.  Terpancar semu kemerahan dipipinya.  Ini.....Rahma menyerahkan sesuatu denganku. Subhanallah...undangan walimah, aku tersenyum, baru kupahami arti rahasia yang disimpan sahabat lamaku ini.

Barakallah ya...,
Jazakillah ya Rin, anti harus datang dan nginap temenin ana, ucap Rahma. 
InsyaAllah.....apa yang tidak buat sahabatku ini, ucapku sambil tersenyum.
Aku bahagia mendengar kabar dari Rahma sore tadi, tapi ntah kenapa malam ini aku sangat merasa kesepian.  Tak terasa buliran airmata menetes dipipiku menemani sujud panjangku di sepertiga malam ini,  Ya Allah...tanamkan keikhlasan di hatiku. 
2 tahun silam....gimana ukh keputusan anti terhadap proposal ikhwan itu? tanya mba Isni,  ana memutuskan tetap pergi ke Berlin mba...ikhwan yang mencoba ta’aruf denganku itu adalah ikhwan yang namanya sekarang ini tertulis di undangan walimah yang diserahkan Rahma padaku sore tadi.  Setelah lulus kuliah kemarin, dia memang langsung melanjutkan S2 ke Belanda, 1 tahun di Belanda dia memutuskan untuk menikah, dan akhwat pilihannya waktu itu adalah aku.  Aku sendiri dihadapkan pada 2 pilihan “menerima taaruf dia atau melanjutkan S2 di Berlin”, aku sudah mengambil keputusan......ketika aku masih di Berlin, terakhir aku dengar dia selesai kuliah dan sudah kembali ke Banjarmasin.

.......................

Aku ditawarin kerja sama dosenku.....Berlin....haruskah aku kembali kesana, keluargaku tetap mengizinkan apapun keputusanku....Rabbi, jangan biarkan aku mengambil keputusan ini karena aku ingin menghindar dari Banjarmasin dari Rahma....ku ambil air wudhu, aku ingin curhat sama Allah malam ini.  Setelah Qiyamul lail kuteruskan dengan tilawah,ada semilir angin ketenangan menyeruak di batin saat ini. Setelah beberapa hari ini kuberpikir, aku sudah mempunyai keputusan terhadap tawaran tersebut.  Bismillah, aku siap melangkah lagi ya Allah.......sekarang keputusan ini aku simpan rapat-rapat di dalam hati, nanti bila saatnya tiba baru aku akan menyampaikannya sama yang lain.
   Dering HP mengejutkan munajatku...tertulis “Nissa calling”, sambil merapikan mukena HP kuangkat
Assalamualaykum...??
Wa’alaykumussalam.....Rin, gawat...Rahma.....
..Nissa terdengar tersengal-sengal, aku bingung ada rasa yang menusuk di hati ini
Ada apa dengan Rahma...?? aku mulai khawatir, apa yang terjadi dengan sahabatku
Di Rumah Sakit (UGD), kecelakaan......sekarang ana mau berangkat kesana
Tubuhku lunglai terasa tidak berdaya lagi...airmata mulai berjatuhan...

.........................

Tubuh dingin, bibir pucat...itulah Rahma sekarang. Terbujur kaku di kamar yang mungkin nantinya dijadikan sebagai kamar penganten. Semua teman-teman dan keluarga sudah berkumpul, selintas kulihat ikhwan itu. Ntah apa yang ada dipikiran dia sekarang ini.  Aku yakin dia pasti sangat sedih, secara tiba-tiba harus  kehilangan calon istri, namun dia tetap kelihatan tenang. Ya Allah Sedetikpun aku tidak bisa meninggalkan Rahma, aku selalu disamping pembaringannya.  Kecelakaan itu terjadi sore, padahal paginya kami masih bersama, menemani dia beli perlengkapan buat pernikahannya yang tinggal 5 hari.  Aku tidak kuasa menatap wajah sahabatku ini, hanya buliran airmata yang menghantar dia sampai di pembaringan terakhirnya. Masih bisa kubaca sms terakhir dia di Hpku sore itu “Rin, seandainya nanti ana dihadapkan dengan kondisi harus poligami, ana pengen anti yang jadi istri suami ana....seandainya, nanti ana lebih dulu pergi dari dunia ini, ana pengen anti yang menggantikan posisi ana sebagai istri...” sms yang belum sempat aku balas.

......................

2 bulan kepergiaan Rahma...aku masih suka melihat foto-foto kami dulu bersama teman-teman yang lain.  Rihlah...Daurah...Outbond...k ami selalu bersama. Siang tadi Dosenku menghubungiku, memastikan keputusanku tentang tawaran kerja beliau yang dulu.  Ya...aku memang sudah mempunyai keputusan.....aku juga rindu dengan teman-temanku di Berlin...Della...Noni...Chint ya...dan yang lainnya.
Bunyi bel rumah membuyarkan lamunanku....Assalamualaykum ternyata mba Isni
Wa’alaykumussalam, masuk mba...aku bawa mba Isni ke ruang tamu, kebetulan aku lagi sendirian di Rumah.
Kaifa haluk ukh? Tanya mba Isni,  Alhamdulillah sehat. 
Langsung aja ya ukh...ana dapat amanah nih, harus segera disampaikan ke anti..
Ada apa mba..? tanyaku dengan selidik,  ini, anti baca aja dulu, ntar ana tunggu jawabannya...mba Isni menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
Setelah lama berbincang-bincang, beliau pamit.....
masyaAllah, aku baru ingat dengan amplop yang diserahkan mba Isni padaku sore tadi.  Habis menyelesaikan tilawah, aku ambil amplop yang tergelatak di atas meja kamarku.  Bismillahirramaanirrahim, aku mulai membukanya....AllahuAkbar, sebuah biodata yang tadinya aku sangka surat permohonan menjadi pemateri suatu acara ternyata bukan.....di sana tertulis nama seorang ikhwan ARYA PRATAMA, ikhwan yang dulu pernah mau taaruf denganku, ikhwan yang dulu namanya tertulis di undangan Rahma sahabatku....Rabbi...misteri apa ini??, tubuhku terasa lunglai.....

@cerpen rekayasa belaka....Senyum manis
kasih commentnya ya krn ini cerpen pertamanya pu3

                            

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .