Cuaca sedikit panas siang ini. Kuhapus keringat yang menetes dikening,
sambil melirik arlojiku. Pukul 12.05 tanggal 15 April, cuaca panas
sangat terasa di kota Berlin yang sekarang ini hampir menampung 3,4
juta penduduknya. Sekitar 15 menit di perjalanan akhirnya aku sampai
juga di apartemen kecilku. Masih kulihat bungkusan kardus yang
tersusun rapi di ruang tamu. Beberapa hari ini aku memang telah
merapikan barang-barangku, tinggal sedikit lagi yang belum kumasukkan
dalam kotak. 1 minggu lagi aku berada di kota ini, aku akan segera
pulang kembali ke Indonesia. Fiuhh...semuanya beres! Kumatikan
laptopku, aku siap-siap berangkat lagi. Hari ini ada pertemuan dengan
para akhwat di mesjid Yavuz-Sultan-Selim.
Di teras mesjid,
kulihat beberapa akhwat sudah menunggu. Mereka berasal dari Indonesia
juga, sama seperti diriku yang berada di perantauan ini, karena
melanjutkan studi.
Assalamu’alaykum....kaifa haluk ukh? Sapa
della, salah satu temen akhwatku yang berasal dari Semarang.
Alhamdulillah, ana bikhoir....af1 ya, dikit telat.
Ya..ngga papa, kami seneng anti bisa jadi pemateri acara ini, sahut Noni.
Acara
mulai berlangsung, Bismillahiramaanirrahiim aku mulai menunaikan amanah
yang diberikan padaku di acara ini. “Muslimah di Persimpangan Jalan”
materi yang aku sampaikan sesuai permintaan panitia acara. 1 jam
berlangsung, acara sudah selesai sekitar 10 menit yang lalu, aku
siap-siap pulang.
Jazakillah khair ya ukh....ucap Della,
Waiyyaki...sahutku.
Anti dah siap-siap balik ke Indonesia minggu depan?
InsyaAllah sahutku lagi.
Salam buat ikhwah disana ya ukh, always istiqomah aja deh!.....
insyaAllah, thanks ya Wassalamualaykum ucapku, sekalian pamitan pulang pada semuanya.
............................. ..
Aku
masih menikmati keberadaanku di kota ini, Berlin terasa sangat berarti
ketika aku mulai menghitung hari untuk meninggalkannya. Tersimpan
banyak kenangan selama hampir 2 tahun menapaki dan menyusuri
lorong-lorong kota Berlin, Legoland (tempat bermain anak-anak, seperti
Dufan) di Guenzburg tempat yang sangat kusenangi karena aku senang
melihat anak-anak yang bermain disana. Kesejukan itu semakin terasa
malam ini, kubuka kembali HP, kubaca berulang-ulang isi sms yang
kuterima sore tadi. Jadikan pulang tanggal 22 April nanti? Langsung ke
Banjarmasin kan...?? Rin, ada hal penting yang ingin ana sampaikan ke
anti, ana pengen anti berada disini, please ya langsung pulang
kesini...sms dari Rahma, sahabat lamaku, masih sering komunikasi
denganku walau kami sudah terpisah jarak yang sangat jauh, dia masih
sering cerita tentang perjalanan ikhwah di kota kami dulu. Kubalas
smsnya tapi dia tidak mau mengatakan permasalahannya itu, dia akan
mengatakannya bila aku sudah di Banjarmasin, padahal biasanya dia mau
aja cerita...aku sedikit penasaran....ahh, sudahlah, aku kembali
melanjutkan tilawahku, huhh....aku mulai ngantuk, kulihat pukul 03.00,
ntah kenapa malam ini bayangan masa lalu senantiasa berkeliaran
dihadapanku, yahh...mungkin karena aku sebentar lagi mau pulang ke
tanah air, tersimpan banyak kenangan yang aku tinggalkan disana.
............................. ..........
23
April, 17.07 wita....Tak terasa saat itu tiba, sekarang aku sudah
melangkahkan kakiku di Bandara Syamsudin Noor, setelah sekian lama
perjalanan. Keluargaku gembira menyambut kepulanganku, keponakan
kecilku, aku kangen banget dengan mereka. Berbagai cerita terlontar
dari bibir ini, menceritakan banyak kejadian dan peristiwa selama aku
di Berlin. Aku memang jarang pulang, tapi sekarang aku akan berkumpul
lagi dengan Bapak dan keluargaku yang tercinta.
2 hari setelah
kepulanganku, aku mulai silaturrahim pada temen-temen lamaku.
kerinduan...semangat kebersamaan....masih kurasakan, bahkan aku mulai
bergabung lagi dengan komunitas akhwat disini. Rin,sekarang ana mau
kerumah anti ya, kangen euy, sekarang dah diperjalanan nih...?? sms
dari Rahma. Tak berapa lama kulihat sosok akhwat berjilbab ungu masuk
ke halaman rumah. Rahma, sahabatku itu masih terlihat manis dengan
senyumnya. Rin, ana kangen banget dengan anti....ucap Rahma sambil
memelukku dengan hangat, ana juga kangen dengan anti,
balasku....ukhuwah yang sangat indah....lama bercerita, Rahma mulai
terlihat serius, seperti mau mengatakan sesuatu.
Rin ingat ngga sama akh.....??
insyaAllah
ana masih ingat dengan ketua kita itu kataku sambil bercanda, aku ingat
nama ikhwan yang disenut Rahma tadi, dia itu adalah ikhwan yang sangat
misterius, tenang, sangat berwibawa, tegas kadang menyebalkan juga,
banyak akhwat yang menyimpan rasa dengannya. Selama jadi Sekretaris
dia, dia ikhwan yang sangat beda dengan yang lain....ikhwan sejati
deh...
Emang ada apa ukh..?? tanyaku dengan selidik. Terpancar semu
kemerahan dipipinya. Ini.....Rahma menyerahkan sesuatu denganku.
Subhanallah...undangan walimah, aku tersenyum, baru kupahami arti
rahasia yang disimpan sahabat lamaku ini.
Barakallah ya...,
Jazakillah ya Rin, anti harus datang dan nginap temenin ana, ucap Rahma.
InsyaAllah.....apa yang tidak buat sahabatku ini, ucapku sambil tersenyum.
Aku bahagia mendengar kabar dari Rahma sore tadi, tapi ntah kenapa
malam ini aku sangat merasa kesepian. Tak terasa buliran airmata
menetes dipipiku menemani sujud panjangku di sepertiga malam ini, Ya
Allah...tanamkan keikhlasan di hatiku.
2 tahun silam....gimana
ukh keputusan anti terhadap proposal ikhwan itu? tanya mba Isni, ana
memutuskan tetap pergi ke Berlin mba...ikhwan yang mencoba ta’aruf
denganku itu adalah ikhwan yang namanya sekarang ini tertulis di
undangan walimah yang diserahkan Rahma padaku sore tadi. Setelah lulus
kuliah kemarin, dia memang langsung melanjutkan S2 ke Belanda, 1 tahun
di Belanda dia memutuskan untuk menikah, dan akhwat pilihannya waktu
itu adalah aku. Aku sendiri dihadapkan pada 2 pilihan “menerima taaruf
dia atau melanjutkan S2 di Berlin”, aku sudah mengambil
keputusan......ketika aku masih di Berlin, terakhir aku dengar dia
selesai kuliah dan sudah kembali ke Banjarmasin.
.......................
Aku
ditawarin kerja sama dosenku.....Berlin....haruskah aku kembali
kesana, keluargaku tetap mengizinkan apapun keputusanku....Rabbi,
jangan biarkan aku mengambil keputusan ini karena aku ingin menghindar
dari Banjarmasin dari Rahma....ku ambil air wudhu, aku ingin curhat
sama Allah malam ini. Setelah Qiyamul lail kuteruskan dengan
tilawah,ada semilir angin ketenangan menyeruak di batin saat ini.
Setelah beberapa hari ini kuberpikir, aku sudah mempunyai keputusan
terhadap tawaran tersebut. Bismillah, aku siap melangkah lagi ya
Allah.......sekarang keputusan ini aku simpan rapat-rapat di dalam
hati, nanti bila saatnya tiba baru aku akan menyampaikannya sama yang
lain.
Dering HP mengejutkan munajatku...tertulis “Nissa calling”, sambil merapikan mukena HP kuangkat
Assalamualaykum...??
Wa’alaykumussalam.....Rin, gawat...Rahma.......Nissa terdengar tersengal-sengal, aku bingung ada rasa yang menusuk di hati ini
Ada apa dengan Rahma...?? aku mulai khawatir, apa yang terjadi dengan sahabatku
Di Rumah Sakit (UGD), kecelakaan......sekarang ana mau berangkat kesana
Tubuhku lunglai terasa tidak berdaya lagi...airmata mulai berjatuhan...
.........................
Tubuh
dingin, bibir pucat...itulah Rahma sekarang. Terbujur kaku di kamar
yang mungkin nantinya dijadikan sebagai kamar penganten. Semua
teman-teman dan keluarga sudah berkumpul, selintas kulihat ikhwan itu.
Ntah apa yang ada dipikiran dia sekarang ini. Aku yakin dia pasti
sangat sedih, secara tiba-tiba harus kehilangan calon istri, namun dia
tetap kelihatan tenang. Ya Allah Sedetikpun aku tidak bisa meninggalkan
Rahma, aku selalu disamping pembaringannya. Kecelakaan itu terjadi
sore, padahal paginya kami masih bersama, menemani dia beli
perlengkapan buat pernikahannya yang tinggal 5 hari. Aku tidak kuasa
menatap wajah sahabatku ini, hanya buliran airmata yang menghantar dia
sampai di pembaringan terakhirnya. Masih bisa kubaca sms terakhir dia
di Hpku sore itu “Rin, seandainya nanti ana dihadapkan dengan kondisi
harus poligami, ana pengen anti yang jadi istri suami
ana....seandainya, nanti ana lebih dulu pergi dari dunia ini, ana
pengen anti yang menggantikan posisi ana sebagai istri...” sms yang
belum sempat aku balas.
......................
2 bulan
kepergiaan Rahma...aku masih suka melihat foto-foto kami dulu bersama
teman-teman yang lain. Rihlah...Daurah...Outbond...k ami selalu
bersama. Siang tadi Dosenku menghubungiku, memastikan keputusanku
tentang tawaran kerja beliau yang dulu. Ya...aku memang sudah
mempunyai keputusan.....aku juga rindu dengan teman-temanku di
Berlin...Della...Noni...Chint ya...dan yang lainnya.
Bunyi bel rumah membuyarkan lamunanku....Assalamualaykum ternyata mba Isni
Wa’alaykumussalam, masuk mba...aku bawa mba Isni ke ruang tamu, kebetulan aku lagi sendirian di Rumah.
Kaifa haluk ukh? Tanya mba Isni, Alhamdulillah sehat.
Langsung aja ya ukh...ana dapat amanah nih, harus segera disampaikan ke anti..
Ada
apa mba..? tanyaku dengan selidik, ini, anti baca aja dulu, ntar ana
tunggu jawabannya...mba Isni menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
Setelah lama berbincang-bincang, beliau pamit.....
masyaAllah, aku baru ingat dengan amplop yang diserahkan mba Isni
padaku sore tadi. Habis menyelesaikan tilawah, aku ambil amplop yang
tergelatak di atas meja kamarku. Bismillahirramaanirrahim, aku mulai
membukanya....AllahuAkbar, sebuah biodata yang tadinya aku sangka surat
permohonan menjadi pemateri suatu acara ternyata bukan.....di sana
tertulis nama seorang ikhwan ARYA PRATAMA, ikhwan yang dulu pernah mau
taaruf denganku, ikhwan yang dulu namanya tertulis di undangan Rahma
sahabatku....Rabbi...misteri apa ini??, tubuhku terasa lunglai.....
@cerpen rekayasa belaka....
kasih commentnya ya krn ini cerpen pertamanya pu3
Recent Comments